BBC NEWS-Menteri Kehakiman Kolombia, Ruth Stella Correa, mengatakan undang-undang narkotika baru akan melegalkan penggunaan pribadi narkotika sintetis seperti ekstasi.
Proposal itu akan menggantikan undang-undang yang berlaku saat ini, yang melarang kokain dan mariyuana, meski tidak ada sanksi hukum jika memiliki dalam jumlah kecil.
Hukum Kolombia ditinjau ulang dalam upaya mengatasi penggunaan dan penyelundupan narkotika.
Pihak oposisi mengatakan masuknya legalisasi narkotika sintetis akan membuat perdebatan berlarut-larut.
Menteri kehakiman berbicara setelah pertemuan dengan komisi untuk meninjau kebijakan narkotika pemerintah dalam 10 tahun terakhir.
Mantan Presiden Cesar Gaviria adalah bagian dari kelompok tersebut bersama sejumlah pakar dan akademisi yang diharapkan dapat memproduksi sebuah dokumen dengan rekomendasi pada delapan bulan mendatang.
Ruth menegaskan bahwa Mahkamah Konstitusi telah menyatakan menentang kriminalisasi orang yang membawa mariyuana dan kokain dalam jumlah kecil.
"RUU yang akan dipresentasikan ke Kongres dalam mandat ini berniat membuat otorisasi itu konkrit, tapi memperluasnya agar mencakup narkotika sintetis dalam dosis pribadi," kata sang menteri.
'Mengakhiri bisnis'
Juru bicara Partai Hijau negara itu menunjukkan dukungan bagi rencana pemerintah itu.
"Masalah di Kolombia adalah masalah dengan narkotika ringan: mariyuana dan kokain. Kutukan perdagangan obat tergantung pada kokain dan dekriminalisasi dalam dunia ini akan mengakhiri bisnis narkotika," kata senator Roy Barreras pada stasiun Radio Caracol.
Namun, kritik mengatakan legalisasi penggunaan pribadi narkotika sintetis hanya akan membuat debat semakin sulit.
Para pakar setuju bahwa narkotika sintetis meliputi ekstasi dan methamphetamines, tetapi ada yang bersikeras bahwa definisi itu juga bisa diterapkan pada heroin.
Pengumuman menteri kehakiman itu membuka kembali diskusi tentang penggunaan narkotika di Kolombia.
Hingga saat ini, negara itu menerapkan pendekatan represif pada penggunaan narkotika yang mengancam hukuman pidana bagi pemilik dan pengguna narkotika.
Tetapi, serangkaian keputusan oleh Pengadilan Tinggi dalam dua tahun terakhir disebut membalikkan tren tersebut.
RUU narkotika baru itu diperkirakan akan dipresentasikan pada Kongres Kolombia dalam beberapa bulan mendatang.
Tuesday, January 29, 2013
Kartun yang Menghina Netanyahu
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON---Pemuatan kartun di koran Sunday Times, Inggris, milik taipan media Rupert Murdoch berbuntut panjang. Kartun tersebut memperlihatkan pemimpin Israel Benjamin Netanyahu membangun dinding menggunakan semen berwarna merah darah, yang oleh para pemimpin Yahudi dianggap kenangan propanda anti-Semitis.
Kartun politis tersebut, yang diterbitkan Ahad (27/1) bertepatan dengan Hari Peringatan Holokos, menunjukkan Netanyahu sedang memegang sendok semen panjang dan tajam berlumuran darah untuk membangun dinding batu bata, sementara dinding dipenuhi warga Palestina yang menderita kesakitan. Kartun itu dimaksudkan menggambarkan pemilihan umum baru-baru ini yang dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu.
Kelompok Yahudi di Inggris mengatakan kartun tersebut secara mengejutkan mengingatkan akan kebohongan berdarah (blood libel) yang biasanya ada di media Arab anti-Semitis.
Blood libel, tuduhan bahwa orang Yahudi membunuh anak-anak dan menggunakannya dalam ritual, ada sejak berabad-abad lampau dan telah mengarah pada hukuman dan serangan.
Kartun yang dibuat oleh kartunis mingguan koran tersebut, Gerald Scarfe, mengacu pada batas yang dibangun Israel selama satu dekade di wilayah Tepi Barat.
Atas penerbitan itu, Murdoch pun minta maaf. Murdoch mengatakan Scarfe tidak merefleksikan opini Sunday Times, namun ia meminta maaf atas kartun yang “mengerikan dan menghina,” ujarnya dalam pesan Twitter.
Koran tersebut menyangkal bahwa kartun tersebut anti-Semitis. Scarfe mengatakan ia tidak sadar hari penerbitan kartun bertepatan dengan Hari Holokos, dan menyesal dengan waktu yang tidak tepat itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

