SHARE

Showing posts with label Tokoh Islam. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Islam. Show all posts

Thursday, March 7, 2013

Al Khawarizmi

Tak banyak orang mengenal seorang tokoh yang sangat berpengaruh di bidang matematika yaitu Al Khawarizmi. Tahukah anda, dia adalah orang yang bisa dibilang sangat berpengaruh sekali dibidang teknologi hingga masa kini, Bagaimana tidak cikal bakal penemuan bilangan Biner dalam system computer,pertama kali di temukan oleh orang Islam yaitu Al Khawarizmi. Sungguh Ironi jika kita tak tahu mengenai Seorang tokoh besar seperti Al Khawarizmi. Apa yang terjadi jika sebelumnya sang penemu bilangan biner ini tidak menemukannnya,pastilah teknologi mungkin belum ada seperti gadget yang anda mainkan saat kini. Dalam bukunya beliau menjelaskan asal muasal bilangan nol.Perlu anda ketahui bilangan nol sendiri sudah diperkenalkan Islam sejak zaman Rasulullah dan Allah menjelaskan juga apa itu arti nol.Tapi sungguh disayangkan ,entah sengaja dilupakan atau dihapuskan ,semua sumber ilmu pengetahuan yang asalnya dari orang islam atau timur tengah,sekarang sudah kalah dengan penemu-penemu dari dunia barat yang baru saja menemukan bahkan mengambil reverensi dari timur tengah.Beliau juga seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm. Beliau wafat sekitar tahun 850 di Baghdad.

Al Khawarizmi merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh Islam yang dikenal di seluruh dunia. Ia dikenal sebagai tokoh matematikawan handal yang dikenal seluruh dunia berkat konsep-konsepnya. Salah satu konsep pemikiran beliau yang terkenal adalah Al-Jabar. Karena pemikirannya beliau dijuluki Bapak Al-Jabar. Selain itu beliau juga disebut-sebut sebagai penemu angka nol.Belum lagi beliau juga penemu bilangan algoritma . Dalam kamus besar bahasa Indonesia, algoritma berarti prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas. Nama itu berasal dari nama julukan al-Khawarizmi. Karya Aljabarnya yang paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan). Dalam buku itu diuraikan pengertian-pengertian geometris. Ia juga menyumbangkan teorema segitiga sama kaki yang tepat, perhitungan tinggi serta luas segitiga, dan luas jajaran genjang serta lingkaran. Dengan demikian, dalam beberapa hal al-Khawarizmi telah membuat aljabar menjadi ilmu eksak.
Di dunia Barat, Ilmu Matematika lebih banyak dipengaruhi oleh karya al-Khawarizmi dibanding karya para penulis pada Abad Pertengahan. Masyarakat modern saat ini berutang budi kepada al-Khawarizmi dalam hal penggunaan bilangan Arab. Notasi penempatan bilangan dengan basis 10, penggunaan bilangan irasional dan diperkenalkannya konsep Aljabar modern, membuatnya layak menjadi figur penting dalam bidang Matematika dan revolusi perhitungan di Abad Pertengahan di daratan Eropa. Dengan penyatuan Matematika Yunani, Hindu dan mungkin Babilonia, teks Aljabar merupakan salah satu karya Islam di dunia Internasional. 

Adapun karya karyanya yang terkenal adalah sebagai berikut:

Kitab Al Jabar(Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala),Dixit Algorizmi,Rekontruksi Planetarium,Astronomi, dan kalender yahudi.

Diposkan:Hamzah adi dari berbagai sumber

Monday, February 25, 2013

Kontroversial pandangan terhadap Ibnu Arabi


Menurut pengakuan Ibnu arabi, kitab fusus Al- Hikam merupakanpemberian Nabi Muhammad saw kepadanya melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut Nabi Muhammad saw mengatakan ini kitab fusus Al Hikam , ambil dan sebarkan kepada umat manusia agar mereka mengambil manfaat. Dalam pengakuannya juga, Ibnu Arabi tidak pernah menulis yang mempunyai suatu maksud yang tertata, sebagaimana penulis-penulis lainnya pada umumnya. Penulisannya berdasarkan kilatan cahaya dari ilha Ilahi yang telah mendekatinya.Kalau karyanya dengan jelas menunjukkan suatu komposisi, hal ini sesuatu yang tidak sengaja. Dengan ilha Ilahi dan pengalaman ini, keyakinan Ibnu Arabi kepada Allah swt semakin bertambah mantap.

Dengan melihat tamsil atau gambaran yang dituliskan Ibnu Arabi dalam kitab fusus Al hikam sebagai bentuk bangunan pandangan Ibnu Arabi tentang whdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Banyak juga yang menilai bahwa Ibnu Arabi sebenarnya sedang membangun pandangannya dengan mengambil/meminjam perangkat-perangkat agama yang sudah mapan.

Dengan pandangannya itu sudah menjadi cirri khas Ibnu arabi di hamper semua karyanya selalu menampilkan gagasan keagamaan yang tidak lazim. Karenanya, selama perjalanan hidupnya sering kali Ibnu Arabi mendapat perlawanan dan kecaman dari berbagai kalangan, terutama kelompok kaum fuqaha dan ahli hadist yang terkenal literalis dan formalis, ini disebabkan karena teori tentang wahdatul wujud yang dianggap condong pada panteisme.

Phanteisme ialah kepercayaan bahwwa Tuha menjelma dimana-mana, bahwa segala yang wujud di ala m ini adalah perwujudannya .Sedagkan manunggaling kawula gusti secara literal berarti menyatu Hamba dan Tuhan.

Predikat negative yang melekat pada Ibnu arabi sehubugan dengan pandangan wahdatul wujud kian menguat setelah mendapat kritikan tajam dari Ibnu Taimiyah(w.728H/1328M).Menurut Ibnu Taimiyah wahdatul wujud bukanlah tauhid, melainkan panteisme terselubung yang mengingkari eksistensi Tuhan karena menganggap Tuhan ada di mana-mana dan menganggap alam semesta (termasuk-manusia)sebagai manifestasinya:ma tsama mawjud illa hadzal-‘alam Al-masyhud, yang artinya:tiada yang maujud kecuali alam yang disaksikan ini. Inti paham ini, tegasnya, mengidentikkan wujud Tuahn dengan wujud swgala yang ada:anna wujudal-ka’inat huwa ‘aynu wujudillah, yang artinya:Sesungguhnya wujud ala mini adalah kenyataan wujud Allah.

Ibnu Taimiyah tidak asal tuduh, beliau terkenal pemberani, jujur, dan bernalar tajam, sebagai bukti tuduhannya juga di tunjukkna yaitu:

Pada pembukaan kitab Al-Futuhat Al-Makkiyah yang berbunyi:
Tuhan adalah benar –nyata , tetapi hamba juga benar nyata.
Pertanyaan Ibnu Taimiyah:
  • Lantas siapa yang dibebani kewajiban?
  • Jika engkau katakana hamba, Dialah Tuhan.Tapi jika engkau katakan Tuhan, mengapa pula dibebani kewajiban?
Kitab Fusus Al-Hikam menyatakan:
  • Subhana man azh-hara al-asy-ya’a wa huwa ‘aynuha (Mahasuci Allah yang mewujudkan segala sesuatu dan menjadi esensi-Nya)
  • Sang kebenaran adalah Pencipta perspektif ini maka oahamilah, akan tetapi juga bukan ciptaan dari perspektif itu maka inagtlah!.

Dasar pernyataan Ibnu Arabi yaitu:surah Qaf ayat 16: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadannya dari pada urat lehernya.(Qs. Qaaf, 50:16).

Ibnu Taimiyah dan ulama tafsir seperti imam Al-Biqa’i(w.885H/1480M) dalam tafsirnya Nazhmu Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa as-suwar, Imam Al-Qurtubi (w.617H/1273M) dalam tafsirnya Al=Jami’ li-Alkamil-Quran pendapatnya :”Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” itu sebagai pernyataan figurative metaforis dan ini hanya merupakan perumpamaan kedekatan (hadza matsal fi farth Al-qurb).

Ungkapan-ungkapan.pernyataan uang pernah dikeluarkan pleh Ibnu Arabi beralasan, letak perbedaannya hanya terletak pada penafsiran dengan orang-orang yang menentangnya, contohnya:
Dalam kitab Futuhat Al- Makkiyah ketika ia menguraikan isi kandungan ayat Al-Mujaadilah ayat 7:
Tidakkah kamu perhatikan ,bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang dilangit dan di bumi?
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang ,melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada(pembicaraan antara)lima orang, melainkan Dialah keenamnya.dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.
Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telahmereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(Qs. Al-Mujaadilah, 58:7).

IbnuArabi, seorang pembaca yang cermat, dapat dengan mudah mengkap bahwa maksud ungkapan “wa la adna min dzalika”adalah dua orang, sedangkan “wa la aktsara”berarti tujuh orang atau lebih.

Ibnu Arabi kemudian mengajukan pertanyaan :
  • Kenapa di ayat tersebut dikatakan, jika ada tiga individu maka Allah adalah yang keempatnya, dan jika ada lima maka Allah yang keenam?
  • Kenapa bukan, Jika ada empat maka dia kelimanya, ataupun jika ada enam maka Dia ketujuhnya?
Jawabannya(lanjutnya) Ibnu Arabi: adalah karena Allah hendak menegaskan keesaan-Nya (annahu yuridu al-ifrad(, bahwa Dialah yang berdiri sendiri, yang wujudnya diperlukan namun tidak memerlukan yang lain. Dalam setiap jumlah tersebut Allah menjadi penggenap akan tetapi tidak termasuk didalamnya (yasyfa’uha(ya’ni an-najwa)bima laysa minha).

Dengan begitu….

Tambah Ibnu Arabi, Allah juga menunjukkan status keberadaanNya. Maksudnya, tak seorangpun dapat berdiri sendiri melainkan dengan wujudnya, digenapkan oleh Al Haq, karena ketunggalan Nya dan Ke EsaanNya semata. Hatta la takuna Al-ahadiyatu illa lahu yang artinya:sehingga tidak ada keesaan kecuali bagiNya.

Oleh karena mahluk mustahil dapat menggenapkan Nya, tetapi sebaliknya Dia yang menggenapkan mahluk, firman Allah ta’ala:
Wahuwa ma’akum aina maa kunntum
Ibnu Arabi kemudian mengajukan pertanyaan lagi:
  • mengapa bukan sebaliknya?
  • Mengapa Allah tidak mengatakan :wa antum ma’a Hu aynamakana(dan kalian bersama Nya dimana saja Dia berada)?
Jawabannya(lanjutnya) Ibnu Arabi: karena mustahil bagi mahluk dapat kita(fa-ya’lamu subhanahu kayfa yash-habuna wa la na’rifu kayfa nash – habuHu).

Dasar pernyataan Ibnu Arabi juga ada.
Singkatnya, tafsir dari surah Al-Hadiid ayat 4, menurut Ibnu Arabi ialah: Kebesertaan hanya mungkin bagi Nya, tetapi mustahil bagi kita(fa Al-ma’iyyah lahu tsabitah fina, manfiyyah ‘anna fihi).
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa:Kemudian Dia bersemayam di atas arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada Nya. Dan Dia bersam kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah MahaMelihat apa yang kamu kerjakan(QS.Al-Hadiid,57:4).

Ibnu Taimiyah dan beberapa ulam tafsir ber[endapat :Ibnu arabi dan pengikutnya tergelincir ketika menafsirkan/memahami ayat ini

Disini Tampak ambivalensi/dualisme Ibnu Arabi. Disatu sisi terkesan menganut panteisme dan di sisi lain terkesan menolaknya. Namun, sikap mendua Ibnu Arabi ini juga ditangkap oleh Ibnu Taimiyah.
Dan Ibnu Taimiyah juga berpendapat bahwa Ibnu Arabi lebih dekat ke Islam dari pada panteisme.
Keraguan Ibnu Taimiyah pada akhirnya terjawab setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athoilah As-Sakandari Asy-Syadzily disebuah masjid di kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu Arabi.
“Kalau begitu yang sesat itu adalah pandanagn pengikut Ibnu Arabi yang tidak memahami makna sebenarnya “,komentar Ibnu Taimiyah.

Catatan :Jika pembaca bingung dengan penjelasan artikel ini silahkan dipelajari dahulu sifa 20.
Sumber :WUJUD

Saturday, February 16, 2013

Sa'ad Bin Abi Waqqash Ra

Sa'ad bin Abi Waqqash
Sa'ad bin Abi Waqqas

Syaratilmu.com-Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan termasuk kelompok As-Sabiquna Al Awwalun atau sahabat yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah pejuang dalam perang Badar dan Hudaibiyah. Beliau masuk Islam pada usia 17 tahun.
Saad lahir dan besar di kota Mekkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianut masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Pandangan Sa'ad bin Abi Waqqash

WaqqasMenurut Sa'ad bin Abi Waqqash, mencintai orang tua bukan berarti harus mengorbankan prinsip hidup.
Itu dilakukannya saat dia telah menerima Islam yang diajarkan oleh Rasulullah, kemudian dia yakini, bahwa hanya Islamlah yang bisa membuat dirinya dan hidupnya bahagia ketimbang kembali menyembah berhala.

Lihatlah statementnya, yang sering dijumpai di sirah-sirah "Duhai bunda, meskipun ada seratus nyawa dalam diri bunda, dan terurai nyawa itu satu per satu, aku akan tetap pada agamaku. Sekarang terserah bunda, apakah hendak meneruskan perbuatan bunda atau hendak makan."

Ibu Sa'ad yang sangat mencintai Sa'ad juga, merasa kehilangan ketika anaknya lari meninggalkan sesembahan nenek moyang, dan menyembah Allah dan mentaati Rasulullah.

Untuk meluluhkan hati Sa'ad, ibundanya mengambil sikap untuk mogok makan, tapi nyatanya tak berkutik sedikitpun sikap Sa'ad untuk meninggalkan Agama Islam yang dibawa Rasulullah, mesikipun ia juga mencintai Ibundanya.

Keistimewaan Sa'ad bin Abi Waqqash

Do’a Seorang Sa’ad yang Senantiasa Dikabulkan

Diriwayatkan dari Qais, bahwa Sa’ad menceritakan kepadaku bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,
“Ya Alloh, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdo’a.”

Manakala beliau didoakan seperti itu oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, maka setiap do’anya senantiasa dikabulkan oleh Alloh. Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, dia berkata,

“Suatu ketika penduduk Makkah mengadukan Sa’ad kepada Umar, mereka mengatakan bahwa sholatnya tidak baik. Sa’ad kemudian membantah, ‘Aku mengerjakan sholat sesuai dengan sholatnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Sholatku pada waktu isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan ringkas.’ Mendengar itu Umar berkata, “Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq.’ Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, hingga ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa’dah berkata, ‘Demi Alloh, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa’ad berkata, ‘Ya Alloh, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.’”

Abdul Malik berkata,

“Pada saat itu aku melihat Abu Sa’dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh do’a Sa’ad.”

(HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Diriwayatkan dari Ibnu Al Musayyib, bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali, Thalhah dan Zubair. Mendengar itu, Sa’ad menegurnya,

“Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku.’ Tetapi pria itu tidak mau menerima. Setelah itu Sa’ad berdiri, lalu mengerjakan sholat dua rakaat dan berdo’a. Tiba-tiba seekor unta bukhti (peranakan unta Arab dan Dakhil) muncul menyeruduk pria tersebut hingga jatuh tersungkur di atas tanah, lantas meletakkannya di antara dada dan lantai hingga akhirnya ia terbunuh. Aku melihat orang-orang mengikuti Sa’ad dan berkata, ‘Selamat kamu wahai Abu Ishaq, do’amu terkabulkan.’”

Pemanah Ulung

Beliau adalah sahabat yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Alloh. Bidikannya begitu tepat. Beliau terkenal sebagai pemanah yang ulung. Jika beliau memanah akan mengenai sasarannya dengan izin Alloh. Sa’ad bin Abi Waqqash sangat cinta kepada Rosululloh.

Sa’ad bin Abi Waqqash selalu mengikuti peperangan bersama Rosululloh. Pada waktu perang Uhud, Rosululloh berkata kepada Sa’ad, “Wahai Sa’ad, lepaskanlah anak panah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu!”

Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersumpah demi kedua orang tuanya, Amir berkata,

“Seorang pria musyrik telah membakar kaum muslimin, maka Rosululloh bersabda, ‘Lepaskanlah anak panah, demi ayah dan ibuku. Aku pun mengambil anak panahyang tidak ada runcingannya hingga mengenai keningnya. Pria itu kemudian terjatuh dengan aurat tersingkap, lalu Rosululloh tertawa hingga gigi serinya terlihat.”

Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu berkata,

“Rosululloh tidak pernah menggandengkan penyebutan ibu dan ayahnya untuk seorang pun selain kepada Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal dunia di Aqiq ketika sedang berada di dalam istananya, tujuh mil dari Madinah, pada tahun 55 Hijriyah. Beliau dikuburkan di perkuburan Baqi’.


Wafatnya Sa’ad bin Abi Waqqash

Setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, tidak banyak kebaikan dunia yang masih tersisa. Sebagian kaum muslimin saling berseteru dengan sebagian yang lainnya. Adapun Sa’ad berrusaha menjauhkan diri dari fitnah (kerusuhan) tersebut. Dia juga tidak turut berperang dalam kubu ‘Ali ataupun Muawiyah. Akan tetapi, dia lebih memilih untuk tinggal di Madinah yang berada jauh dari tempat terjadinya kerusuhan tersebut. Dia menjadi wali (gubernur) disana.
Ketika hari kematiannya datang, dia sempat berkata, “Aku mempunyai sebuah jubah yang terbuat dari bulu. Ketika menghadapi pasukan kaum musyrikin pada peperangan Badar, aku mengenakan jubah tersebut. Sesungguhnya aku ingin bertemu Allah dengan menggunakan jubah tersebut. Karenanya, kafanilah aku dengan jubah itu bila aku meninggal.”
Pada pagi hari di tahun ke-55 Hijriyah, kaum muslimin melayat Sa’ad. Mereka memakamkannya di Baqi’ di samping kuburan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (Ummahat Almu’minin) ikut mendoakannya. Mereka semua menangis tersedu-sedu, karena sang pelempar jitu dan pemilik doa yang selalu terkabulkan itu telah meninggal dunia.
Semoga Sa’ad dapat sampai ke surga-surga Allah, serta dapat meraih keridhaan dan ampunan-Nya. Kini yang tersisa hanyalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
“ Lemparkan (anak panah ini), wahai Sa’ad. Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu.”

Sumber: Berbagai Sumber

Thursday, February 14, 2013

Kisah Pengembaraan Ibnu Arabi

 
Kelahiran Ibnu Arabi

Tanggal 27 Ramadhan tahun 560 Hijriah, Muhyiddin Abukabar bin Muhammad yang dikenal dengan nama Ibnu Arabi ilmuwan dan sufi besar Muslim, terlahir ke dunia di Andalusia. Sejak berusia delapan tahun Ibnu Arabi telah belajar al-Quran, fiqih dan hadis. Menginjak usia remaja, beliau mulai terjun ke dunia irfan dan penyucian jiwa. Untuk melanjutkan pendidikannya, Ibnu Arabi melakukan perjalanan ke berbagai negeri muslim.
Pada usia15 tahun, Arabi bertemu dengan Filosof terkenal Ibnu Rusyd (Averros) yang berumur 55 tahun, Ibnu Rusyd melihat di dalam diri Arabi muda ada kebijaksanaan yang dicarinya selama ini. Dengan bahasa Samara, anak muda ini telah memberitahukan kepadanya bahwa penyelidikan rasional tidaklah memadai untuk menggapai pengetahuan sempurna tentang Tuhan dan dunia.


Mati Suri

Dikisahkan Ibn Arabi saat kecil tenggelam dalam sebuah empang. Ketika diangkat ternyata sudah tidak bernyawa. Ayahnya kemudian membaringkan jasad Ibn Arabi menghadap kiblat. Ayah Ibn Arabi kemudian membaca surah yasin. Saat dua ayat terakhir tangan Ibn Arabi bergerak-gerak dan hidup kembali.
Setelah bangun, Ibn Arabi ditanya oleh ayahnya. Ibn Arabi bercerita bahwa selama mati suri itu ia sudah berada dalam alam lain dengan jalan yang lurus. Ia berjalan ditemani seseorang yang berwajah berseri dan ceria. Ibn Arabi bertanya kepada yang menemani tersebut. Orang tersebut bilang bahwa ia adalah jelmaan dari surah yasin dibacakan ayah Ibn Arabi. Kemudian Ibn Arabi beserta yang menemaninya berjalan. Ketika tiba pada sebuah pintu, Ibn Arabi ditahan dan diberitahu bahwa ia belum waktunya. Pada dua ayat terakhir surah yasin, Ibn Arabi terbangun karena mendengar ayahnya membaca dua ayat tersebut.
Ibnu Arabi merupakan sedikit dari salah satu tokoh jenius yang tidak saja dimiliki Islam tapi dunia, yang telah mewariskan lebih dari 500 buku buah pemikirannya. Karakteristik ajaran Ibnu Arabi yang paling distingtif barangkali adalah penekanannya bahwa dia berada dalam dataran imajinasi. Baginya, imajinasi merupakan elemen konstitutif-fundamental dalam kosmos mahaluas. Inilah bisa jadi yang membedakannya dengan pemikir kontemporer, yang menggunakan perspektif postmodern, yang menempatkan imajinasi dalam lingkungan realitas obyektif yang sempit.

Pengembaraan batin

Bagi ibnu Arabi, ruh-ruh sebagaimana diketahui, mewujudkan dirinya melalui imajinasi. Alam semesta memiliki 3 dunia fundamental. Dunia tertinggi adalah ruh yang sederhana tidak tercampur yang merupakan kehidupan, inteligensia dan kilaunya yang murni. Wilayah tengah adalah dunia imajinasi, tempat yang saat bersamaan didiami baik oleh yang sederhana dan yang bersenyawa, karena imajinasi tidak sepenuhnya berbeda baik dari ruh ataupun tubuh dan melalui imajinasi kedua sisi, (jiwa dan tubuh) dapat. saling berhubungan. Sedang dunia terendah adalah tubuh,yang tak bernyawa dan campuran atau terbentuk dari bagian-bagian.
Oleh karena itu Ibnu Arabi pernah berkata, pribadi yang mengalami penyingkapan melihat, sementara dia sedang jaga seperti halnya orang bermimpi mampu melihat ketika dia tidur.
Visi-visi imajinasi lbnu Arabi seringkali belangsung selama mimpi. Dan inilah visi pengembaraan spriritualnya yang kadang terkesan kontroversial.

(Kisah:1) Di dalam cara dimana seorang pemimpin melihat, bahwa aku berjalan mengelilingi Ka’bah bersama-sama kelompok manusia yang wajah-wajahnya tidak aku kenali. Mereka berkali-kali mengucapkan dua baris syair, baris satu tentang yang kuingat sedangkan baris lain ialah yang kulupakan. Satu syair yang kuingat demikian; bertahun-tahun kami berputar-putar, seperti kalian berputar, mengelilingi rumah (ka’bah) ini, kita semua, masing-masing dari kita….
Seorang dari mereka. berbicara kepadaku, menyebut dirinya dengan nama yang aku sendiri tidak mengenalnya. Dia berkata “aku adalah salah seorang dari nenek moyangmu”
Aku bertanya kepadanya, “telah berapa lama Anda meninggal?”
Dia menjawab, “40 ribu dan sekian tahun” Aku berkata kepadanya, “Adam sendiri tidak hidup sepanjang itu”.
Dia menjawab, “Adam mana yang Anda bicarakan? Apakah Anda berbicara tentang orang terdekat, atau tentang orang lain ?”.

(Kisah:2) Ibnu Arabi telah sadar (mungkin) selama manusia terimajinalkan muncul dengan tiba-­tiba, dan seakan jelas dia terlihat di dalam dunia imajinasi, karena jasad fisiknya berada di negeri lain.
Sepanjang malam ketika aku menulis bab ini, al-haqq menjelma kepadaku melalui sebuah kejadian manusia penuh cahaya yang secara fisik tingginya sedang. Dia duduk di hadapanku, tetapi tidak berkata apapun. Al-haqq berkata kepadaku, “inilah seorang dari hamba-hamba kami. Untunglah dia, sehingga ini menjadi mungkin berada dalam ukuranmu (pada hari kebangkitan nanti)”.
Aku berkata .kepada-Nya, “Siapa dia?”
Dia berkata kepadaku,”Inilah Abu al-Abbas Ibnu Jundi, penduduk al-Busyarrat (Alpujarras di Spanyol)”
Pada saat itu aku berada di Damaskus, aku berkata kepada-Nya. “Wahai tuan, bagaimana dia akan mengambil keuntungan diriku? Bagaimana aku bisa terkait dengannya?”
Dia menjawab, “Berbicara, dia akan mengambil keuntungan itu darimu. Seperti baru saja ia kutunjukkan kepadamu, maka aku juga sedang menunjukkan dirimu kepadanya. Tunjukkanlah kepadanya maka dia akan mendengarmu, Dia berkata seperti apa yang engkau katakan. Dia berkata “aku telah menunjukkan seorang manusia di Syria yang di panggil Muhammad ibnu ‘Arabi. Jika dia menguntungkan aku dalam persoalan tertentu yang sekarang tidak kumiliki, dia akan menjadi guruku”.
Aku katakana kepadanya, “wahai Abu al-Abbas! Persoalan apakah itu?”
Dia berkata, “Aku sedang berujung dalam pencarianku. Aku rnelakukan upaya sepenuhnya dan berjuang dengan keras. Ketika mengalami penyingkapan, aku dapat mengetahui apa kehendakku. Oleh karena itu aku mengendorkan upayaku”
Aku katakan kepadanya, “Saudaraku demi manusia yang lebih baik dari pada dirimu, lebih menyatu Al-Haqq, lebih lengkap kesaksiannya dan lebih sempurna dalam penyingkapan, seperti dinyatakan, “Dan katakanlah, ‘ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (QS 20;114). Maka di mana letak ketentraman preskripsi keagamaan? Engkau tidak memahami apa yang telah di katakan kepadamu. Engkau katakan, “Aku mengerti apa yang kuinginkan, tapi tidak tahu untuk apa. Ya, engkau berkeinginan bagi perjuangan dan usahamu. Ini bukanlah tempat ketentraman berada. Ketika engkau berakhir dengan persoalan yang menyibukkan serta menenggelamkan dirimu padanya yang menghampiri dirimu di setiap helaan nafas. Bagaimana seseorang dapat mengakhirinya?”
Dia berterima kasih kepadaku dengan apa yang aku ucapkan. Lihat pada kecemasan Tuhan terhadapku dan terhadapnya.

(Kisah:3)Tak dapat diragukan lagi bahwa Ibnu Arabi terjaga, dan visi yang nampak menjadi tipe di mana obyek yang terimajinalkan dialami sebagai dunia eksternal. Kemunculannya secara tiba-tiba berikutnya tampak disinggung pada rentang 1194.
Suatu hari di Seville (kota di Andalusia, Spanyol pada masa dinasti Ummayyah di barat, di samping kota Kordova, Granada aku berada dikerumunan dalam masjid Al-Adi (tokoh fiisuf Yahya bin Al-‘Adi) setelah sholat Ashar. Seseorang mengatakan kepadaku tentang manusia agung di antara manusia perambah jalan, salah seorang yang benar-benar agung, yang telah bertemu dengannya di Khurasan. Seperti apa yang telah dijelaskan dengan menakjubkan kepadaku, tiba-tiba aku menatap seorang yang dekat dengan. Kami, tapi orang disekelilingku tidak melihatnya. Dia berkata kepadaku, “Akulah dia seorang di mana manusia yang bertemu denganku di Khurasan sedang menjelaskannya kepadamu”.
Aku mengatakannya .kepada orang yang memberi cerita, “inikah orang yang Anda lihat di Khurasan, adakah Anda tabu gambarnya?”
Dia menjawab bahwa memang demikian adanya. Kemudian aku mulai memberi gambaran lainnya berikut sebagai ciri dari postur fisiknya”.
Sahabat bicaraku berkata, “Demi Tuhan, ia.mempunyai postur dan ciri seperti yang Anda sebutkan. Pernahkah Anda melihat sebelumnya?”
Aku katakana kepadanya, “Dia sedang duduk disini, mengkonfirmasikan kepadaku kebenaran cerita yang Anda sampaikan. Aku gambarkan kepada Anda semata apa yang kulihat sebagaimana aku mengenalnya dan dia sendiri membuat dirinya kukenal. “Dia tidak henti-hentinya duduk denganku hingga aku meninggalkannya. Kemudian aku menoleh kembali ke arahnya, namun tidak menemukan dirinya”.

(Kisah:4) Beberapa tahun kemudian (pada tahun 1200) manakala telah memasuki maqam kedekatan dengan Tuhan (maqam al-qurbah), maqam spiritual tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang yang bukan tergolong nabi, Ibnu ‘Arabi melakukan perjalanan ke Maghrini. Dia mendapati dirinya sendirian di maqam ini dan merasakan suatu isolasi yang mengerikan. Untuk mencapai maqam ini, yang perlu di pahami adalah tidak mengimplikasikan penarikan diri macam apapun dari dunia pengalaman sehari-hari. Di berbagai kesempatan pada zaman Ibnu Arabi telah menjalani kehidupan dalam bumi luas Tuhan selama 7 tahun dan alam semesta. Dia kesepian di maqam ini meski ada sahabat imajinasinya yang selalu menghiburnya,” aku melihat
bahwa melaluinya ruh Abu Abdurrahman as-Sulami mewujudkan dirinya padaku. Tuhan telah mengirimkannya kepadaku karena rahmat” padahal As-Sulami telah meninggal 170 tahun sebelum kejadian ini. Dia seorang guru sufi besar dan telah menulis banyak karya. Ibnu Arabi menceritakan dimana dalam pertemuan itu As-Sulami menjelaskan aspek-aspek tertentu dari macam kesekatan.

(Kisah:5) Dua tahun kemudian bertemu dengan manusia imajinal, Ahmad As-Aabti putra khalifah Abbasiyah Harun Ar-Rasyid (w. 809) dan meninggal 400 tahun lebih awal. Dia sangat sholeh dan menggunakan 6 hari dalam seminggu untuk berpuasa dan kemudian bekerja di perusahaan kerajinan pada hari sabtu, hidup diatas penghasilan akhir minggu. lnilah yang menjelaskan nama Sabti yang berarti dia yang dinisbatkan dengan Sabbath (Aabtu) menurut lbnu Arabi dia adalah kutub (quthb) dizamannya insan kamil paling tinggi.
Menurut lbnu Arabi pada tiap diri manusia (pilihan Tuhan) memiliki 6 jiwa di setiap waktu (yang memberikan arah terhadap 6 hari pertama setiap minggu di mana selama itu pula waktu yang dibutuhkah Tuhan alam menciptakan dunia) jumlah mereka tidak akan bertambah ataupun menyusut. Sabti putra Harun Ar-Rasyid adalah salah satu dari mereka. Aku berjumpa dengannya ketika tawaf berjalanan, mengelilingi Ka`bah pada hari Jum’at setelah sholat pada tahun 599 (1202). Dia sedang terlihat melakukan tawaf. Aku mengajukan kepadanya beberapa pertanyaan dan dia menjawabku saat kami meneruskan tawaf mengelilingi Ka’bah. Ruhnya tampak di hadapanku dalam persepsi inderawi selama mengelilingi Ka’bah, persis seperti Jibril yang tampak dalam penampilan seorang badui.
Ibnu Arabi menulis tentang para penghuni dunia spiritual, mereka mengambil bentuk dari setiap (kemungkinan) bentuk, laksana air mengambil warga berdasarkan wadahnya.
Akan tetapi makhluk spiritual yang mengambil bentuk imajinal dapa menjadi mahkluk lain apapun, baik maupun jahat, malaikat atau pun jin, nabi atau iblis. Karakteristik yang menonjol dari imajinasi ialah ambiguitasnya, ketidakpastiannya dari kualitas-kualitasnya yang tiba-tiba. Syaikh Ibnu Arabi dapat hidup gembira dengan pengetahuannya tersebut karena dia mengenali tanda dari setiap hal yang muncul secara tiba-tiba. Sisanya, yakni sebagian besar manusia kurang mengetahui tanda-tanda tersebut, yang terbaik adalah berhati-hati.
(Berbagai Sumber)

Wednesday, February 13, 2013

Cinta Tanpa Dusta



Sedikit ceritabagi pemirsa yang terhormat, agar kita semua mengerti dan merenungkan betapa indahnya cinta sejati itu. 

Mata indah wanita mulia itu berkaca-kaca.Air matanya menetes membasahi kedua pipi merahnya.Tubuhnya melunglai.Hatinya tersayat lara.Wajah beningnya menengadah menatap langit. Sesaat perempuna suci itu melantunkan sebuah doa. "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku rumah disisiMu dalam sorga dan selamatkanlah aku dari firaun dan perbuatannya.Selamatkanlah pula aku dari kejahatan kaumyang zalim."
Wanita bernama Aisiah itu sendirian beriman di dalam istana megah Firaun, raja paling berkuasa saat itu.Permaisuri dari tirani penguasa dunia saat itu merawat dan menumbuh kembangkan imannya seorang diri. Ia satu-satunya penghuni istana yang beriman kepadaNya. Badai kekufuran yang melanda istana Firaun tak mampu menepikkan iman wanita agung itu. Gelombang kefasikan yang mendera penghuni istana sang tirani tak kuasa menenggelamkan cinta ratu mulia itu kepadaNya.
Perempuan suci itu memilih untuk berada dalam bahtera cintaNya yangluas tak bertepi dari pada menempati singgasana kefasikan yang sering menipu.Ia mendamba dekapan cintaNya dari pada berada dalam pelukan cinta sang raja Zalim. Sang ratu itu memlih meninggalkan istana dunia untuk menggapai rumahdi surga. Istri sholihah itumemutusakan melepas cintanya kepada penguasa yang amat kaya untuk dabat bertemu kepada Dzat Pemilik Cinta.
Aisiah binti Mushahim telah memberi nilai cinta yang benar kepada kita. Permaisuri cantik itu telah menjadi teladan dalam memandu kasih denganNya. Ratu elok itu telah menjadi model indah bagi para wanita pendamba sorga. Wanita cantik itu menjadi cahaya bagi paara wanita dalam menghamba kepadaNya. Ia menerangi jalan wanita yang merindu bertemu dengan Sang Kekasih Pemilik Cinta dalam keindaha FirdausNya.
Sungguh tepatkalu Rosullullah melukiskan kemuliaannya,"Tahukah kalian wahai sahabatku makana empat garis yang baru saja aku lukis ini?" Para sahabat mulia itu menjawab,"Hanya Allah dan rasullNya yang lebih tahu.Pamungkas semua nabi itu berkata,"Wanita-wanita penduduk surga itu yang paling utama ada empat, yaitu Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti 'Imran dan Aisiah binti Musahim istri Firaun."
Ketika ada wanita yang bahtera cintannya deagn sang belahan hati karam sebelum berlabuh, telah ada contoh indah pada diri Aisiah bagaimana cara untuk tetap bisa merapat di pelabuhan cintaNya. Saat aada wanita yang harus merawat dan menumbuh kembangkan cintanya seorang diri, ada teladan luar biasa pada diri sang Ratu. Permaisuru cantik itu telah menjadi model indah untuk mengusir badai kekufuran sehingga tak akan pernah mampu merobek iman kita kepadaNya.
Sungguh kita tak akan merugi jika menjadikan Asiah, Maryam, Khadijah, dan Fatimahsebagai model hidup kita. Mereka memang tercipta untuk menjadi pelita bagi jalan hidup kita yang mendamba kebahagiaan sorga na abadi. Cahaya sorga itu memendar dari tutur kata mereka, bukan dari para wanitapenghias layar kaca. Sinar Firdaus itu memancardari amal indah mereka, bukan dari parawanita penghias laya lebar. Karena itu jangan pernahberpaling dari mereka berempat walaupun sekejap saja.
By: Hamy Wahjunianto 

Monday, February 11, 2013

Perdebatan Imam Hanafi dengan Atheis

Belia bergegas datang kepada gurunya Syekh Habban ingin meyampaikan dan menanya kan tentang takbirmimpinya semalam. Dilihatnya sang guru edang termenung yang agaknya sedang menghalangi problema yang cukup besar dan berat.Tergambar pada kerut wajah sang guru dengan pandangan matanya jauh kedepan.
Tanpa menoleh ke arah sang murid sang guru bertanya"ada perlu apa kau, hai anakku?"-"Saya ingin menceritakan mimpi sayatadi malam,wahai sang guru", ujar hanafi kecil. Sang guru memandang tajam ke arah sang murid seraya berkata:"Terangkan apa mimpimu itu". Si muridpun menceritakan mimpinya :"Dalam mimpi saya saya melihat seekor babi hendak menumbangkan pohon besar, sambil mengorek-ngorek, membongkar tanah dan akar pohon itu.Tiba-tiba datang seekor ular kecil lalu mematuk dan melilit babi besar itu, akhirnya babi itu pun mati". Lalu Syehk Habban menjelaskan makna mimpinya itu:"Hai anakku inilah yang sedang kurenung kan saat ini.Aku menerima surat dari raja, memerintahkan akau segera datang kekota , kerena dikota sekarang sedang ditimpa bencana besar denga datangnya seorang Dary(Atheis) yang anti tuhan. Si Dahry telah menantang para ulama untuk berdebat dan mengadu hujjah, tentang ada atau tidak adanya Tuhan. Si Dahry tentu saja berpendirian bahwa Tuhan itu tidak ada. Menurut serat Raj tersebut beberapa ulama sudah kalah dalam menghadapi perdebatan kala itu.Maka Raja meminta aku supaya bersedia menghadapi si Dahryuntuk melakukan perdebatan. Sehubungan dengam mimpimu itu artinya ialah bahwa pohon besar adalah akusendiri, babi yang hendak merobohkan pohon adalah si Dahry, sedang ular kecil adalah engkau sendiri, hai anakku.Sekarang kau kuperintahkan ke kota untuk menghadap sang Raja atas namaku untuk melakukan perdebatan dengan si Dahry,Allah menertaimu hai anakku."
Hanafi kecil segera pergi untuk menghadap sng raja dengan membawa surat balasan seng guru.San Raja agak heran dan bingung melihat anak kecil yang belasan tahun berani menghadapi si Dahry, padahal beberapa ulama yang cukup tenar sudah kalah dalam perdebatan tersebut.Tetapi sang Raja mengerti tentang kebesaran Syekh Habban yang tergolong seorang "khawwasul khawwah"(teristimewa).Rajapun menetapkan dan hari perdebatan itu dilangsungkan.

Sampai waktu yang tealh ditentukan persidangnpun dibuka.Si Dahry pun mengerti bahwa dia sedang menghadapi seorang anak kecil kemudian ia marah-marah dan mengajukan protes kepada Raja.
--Tuanku Raja, saya keberatan saya keberatan berdebat dengan anak kecil ini.

--Mendengar protes si Dahry, sia Hanafi kecil mengacungkan tangan dan bersuara dengan lantang:"Tuanku raja yang mulia saya juga amat keberatan untuk melakukan perdebatan dengan "orang yang tidak punya akal "seperti Dahry.

 --Si Dahry mencak-mencak di hadapan sang raja kerena merasa terhina dengan ucapan lawannya itu ,seraya berkata:
--Tuanku Raja, saya telah dihina dipepan umum. Saya minta keadilan dengan menangkap anak ini atau guru yang memberi kuasa atasnya supaya diseret ke pengadilan.

--Raja menjawab:--Baiklah, gugatan anda saya terima,selesai perdebatan ini, perkara penghinaan ini akan saya sidangkan.

Hanafi kecil mengajukan bantahan:
--Tuanku Raja ini adalah awal perdebatan.Bukan suatu penghinaan.

Raja agak herang dengan ucapan anak kecil itu dengan mengajukan pertanyaan:
--Hai si kecil, apa alasanmu bahwa ucapanmu itu bukan penghinaan?

Si Hanafi kecil berdiri sambil menudingkan tanagannya kepada si Dahry:
--Hai Dahry! Kalau anda keberatan saya katakan tidak berakal,coba tuan buktikan di depan saya dan persidangan ini. "mana dia akal tuan itu" apa bentuknya? dan apa pula warnanya?Silahkan buktikan. Agar kami semua bisa menyaksikannya.

Mendengar pertanyaan itu,si Dahry tambah marah, merah padam mukanya,seraya menjawab denga suara nyaring:
--Hai anak kecil ingusan itu pertanyaan gila dan tolol. Tidak ada seorangpun didunia ini yang dapat bentuk, rupa, dan warna akal.Pertanyaan goblok hai anak kecil.

Dengan tersenyum si Hanafi kecil berdiri:
--Hai Dahry!jawaban anda itu lebih goblok dan lebih tolol dari pertanyaan saya. Kenapa anda hendak meminta buktikan bentuk dan rupa Tuhan?sedangkan akal anda sendiri tidak tahu bentuk rupanya.

Si Dahry diam seribu bahasa.Dia merasa terjebak ucapannya sendiri.

Raja pun merasa terpukau dengan perdebatan singkat itu.Lalu Raja mengumumkan bahwa Hanafi kecil menang di tahap pertama dan akan dilanjutkan ke berikutnya.

Satu-nol untuk Hanafi kecil.

Raja mengumumkan bahwa si Dahry dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaannya.Dahry pun berdiri dari kursinya.

--Hai anak kecil!saya akui kalah pada tahap pertama.sekarang coba jawab pertanyaan saya , kalau Tuhan itu benar ada ,maka apa pekerjaan Tuhanmu itu sekarang?

Hanafi kecil berdiri seakan-akan tidak menghiraukan pertanyaan si Dahry.Dia berdatang sembah kepada sang raja.

--Tuanku Raja yang mulia!Saya telah menang di tahap pertama,seyogyanya sayalah yang menduduki kursi keemasan yang didudukinya itu,dan si Dahry duduk dibawah kursi saya ini.saya minta keadilan tuanku.
Sang Raja menyadari sesuai ketentuan yang telah beliau tetapkan bahwa siapa yang menag dalam perdebatan berhak duduk di kursi keemasan di samping Raja. Yang kalah duduk dibawah.Maka beliau memerintahkan si Dahry turun dan Hanafi kecil naik dan duduk disamping sang Raja.

Pada waktu pertukaran tempat itu, para hadirin bersorak sorai menyataka kegembiraannya.si Hanafi kecil langsung menjawab pertanyaan si Dahry "
--Hai dahry !Tuahn itu pasti adaNya.Pekerjaan Tuhan sekarang  adalah nyata.Allah turunkan anda dari kursi ini dan menaikkan serta mendudukkan saya di kursi ini.
si dahry keberatan dengan jawaban itu :
--Yang menurunkan saya dan menaikkan kamu bukanlah Tuhan.tetapi atas perintah sang Raja.

denga tengan dan penuh hormat,si Hanafi kecil mengajukan pertanyaan kepada sang Raja :
--Tuanku Raja yang mulia, siapakah sebenar-benarnya(hakikatnya) yang menggerakkan hati dan lidah Tuanku untuk mengeluarkan perintah itu?

Mendengar pertanyaan itu,Sang Raja menjawab daengan tegas dan penuh wibawa:
--Yang menggerakkan hati dan lidahku untuk mengeluarkan perintah itu adalah Allah SWT.

Setelah mendengar jawaban Raja si Dhary terhenyak di kursinya ,wajahnya pucat pasi.Sesuai denga keputusan Raja sebelumnya, siapa yang kalah dalam perdebatan akan dijebliskan ke penjara.

Di hadapan para hadirin Raja mengeluarka pengumuman:
  1. Hanafi yang mendapat kuasa dari gurunya Syekh Habban, dan dinyatakan keluar sebagai pemenang di perdebatan ini.
  2. Memerintahka pada peugas penjaga untuk memasukkan Dahry ke penjara sesuai ketentuan
  3. Gugatan si Dahry terhadap Hanafi kecil mengenai penghinaan  didepan umum dibatalkan karan si Dahry juga menghina dengan ucapan "goblok","tolol" terhadap tergugat.
Nah pembaca yang setia,, itu tadi sekelumit jkisah dimasa muda Hanafi yang berusia belasan tahun.Yang berdebat dengan seorang atheis.Dan pesan yang dapat kita ambil yaitu Allah itu benar adanya dan nyata tidak ada sesuatu yang dapat mendindinginya.Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita ....!!!
Sumber:4m

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Site Info